Perjalanana memulai Pola Hidup Sederhana
Tanpa saya sadari saya telah memulai hidup minimalist sejak pertama kali saya mendapatkan penghasilan. Waktu itu saya mendapat kesempatan untuk berdinas ke jakarta dan di sela sela waktu saya mengunjungi toko buku murah di basement Blok M Square. Entah mengapa dari sekian banyak buku yang ada disana saya tertarik dengan buku "Rich Dad Poor Dad" karangan Robert T. Kiyosaki. Sebuah buku mengenai finansial pribadi yang juga bukan jenis buku yang pernah saya sukai sebelumnya. Buku ini membuka mata saya mengenai bagaimana perekonomian bekerja melalui perputaran uang, dan dengan menguasai uang kita dapat lebih memgang kendali pada hidup kita. Darisinilah saya pertama kali belajar mengenai pentingnya uang, dan karena itu janganlah dengan mudah kita berikan kepada orang lain.
Kehati-hatian saya menggunakan uang kemudian secara langsung berdampak pada bagaimana saya membeli barang barang. Sebelumnya saya selalu suka membeli barang barang terkini yang sebenarnya tidak benar benar saya butuhkan baju, tas, sepatu, handphone adalah barang barang yang sebelumnya rutin saya beli walupun sebenarnya saya sudah punyai. Sejak saat itu saya selalu memanfaatkan barang yang telah saya punya tanpa harus membeli yang baru saat barang yang lama masih layak terpakai. Selain itu saya juga termotivasi untuk mendapatkan barang barang tersebut tanpa harus membeli, misalnya dengan mengumpulkan suvenir suvenir gratis dari kegiatan kantor yang saya ikuti, saya menjadi tidak malu untuk memakai tas gratis, baju gratis, dan barang barang lainnya yang dapat saya miliki tanpa harus membeli. Bahkan kadang kadang saya ke gudang untuk mencari barang barang adik saya yang sudah tidak dia pakai untuk kemudian saya perbaiki dan saya pakai kembali.
Jika kita menuruti ego kita untuk membeli semua barang barang yang up to date, bukan hanya uang kira yang akan habis, namun barang barang itu akan memenuhi tempat tinggal kita dan menjadi penggangu. Mungkin tidak masalah jika kita memiliki rumah yang besar untuk menyimpan barang barang tersebut, tetapi masalah lain juga muncul saat kita dituntut untuk membuang buang waktu demi barang itu. Misalkan kita punya handphone baru, kita akan cenderung melakukan berbagai kustomisasi yang tidak perlu selama ber jam jam , berhari hari dan bahkan memecah konsentrasi kita untuk melakukan hal yang lain. saya ingat sekali saat saya membeli laptop baru yang saya curahkan sangat banyak energi dan waktu hanya untuk menginstal kembali program program lama yang sebenarnya sudah ada di laptop saya yang lama. waktu adalah sumber daya yang berhaga dan terbatas,melalui pola hidup the minimalist ini saya mencoba menggunakan waktu saya sebaik mungkin untuk melakukan apa yang memang benar benar penting.
Namun usaha saya untuk benar benar menggunakan uang seperlunya dan meminimalisisr berbelanja yang tidak perlu sepertinya agak sedikit ternoda. walaupun saya dapat menahan diri tanpa membeli sehelai baju pun dalam beberapa bulan namun saya mempunyai kebiasaan nongkrong di berbagai waralaba fast food. kebiasaan ini tidak dapat saya anggap sepele karena selain menghabiskan uang dalam jumlah lumayan , frekuensi saya berkunjung ke starbuck juga sangat tinggi. Untuk memaksimalkan usaha saya menjadi seorang minimalist tulen saya harus dapat mengendalikan kebiasaan saya ini. saya memang tidak ingin benar benar berhenti mengunjungi tempat tempat tersebut, karena saya juga tidak ingin terlalu pelit dalam menggunakan uang, hanya saja jumlah kunjungan ke sana harus dapat saya kurangi.
Saya telah lama mengamati pola belanja yang saya lakukan, dan suatu hal yang menyebabkan saya selalu berkunjung ke gerai waralaba fasfood adalah ketika saya tidak membawa bekal makan siang dan saat saya ingin mendapatkan kopi di siang hari. Ketika kunci ini dapat saya atasi , saya yakin saya dapat mengurangi kunjungan saya ke tempat itu untuk melakukan pemborosan dapat dikurangi. Permasalahan yang saya hadapi ketika saya harus membawa bekal makan siang adalah ketika saya harus bangun pagi untuk menanak nasi dan sekaligus menyiapkan lauknya. beberapa hari ini saya telah berhasil melakukannya dan saya harap kedepannya bisa tetap saya lakukan sehingga lubang inefisiensi itu bisa saya tutup. Selain menyiapkan bekal, saya juga harus membawa kopi bubuk ke kantor.
Demikianlah cerita saya mengenai Journey to Minimalist lif to Live Maximalist. Semoga apa yang saya sampaikan dapat berguna bagi diri saya dan para pembaca. Semoga pola hidup minimalist atau yang kita kenal dengan pola hidup sederhana dapat lebih dikenal masyarakat indonesia dan dapat diterapkan tanpa rasa malu.
Kehati-hatian saya menggunakan uang kemudian secara langsung berdampak pada bagaimana saya membeli barang barang. Sebelumnya saya selalu suka membeli barang barang terkini yang sebenarnya tidak benar benar saya butuhkan baju, tas, sepatu, handphone adalah barang barang yang sebelumnya rutin saya beli walupun sebenarnya saya sudah punyai. Sejak saat itu saya selalu memanfaatkan barang yang telah saya punya tanpa harus membeli yang baru saat barang yang lama masih layak terpakai. Selain itu saya juga termotivasi untuk mendapatkan barang barang tersebut tanpa harus membeli, misalnya dengan mengumpulkan suvenir suvenir gratis dari kegiatan kantor yang saya ikuti, saya menjadi tidak malu untuk memakai tas gratis, baju gratis, dan barang barang lainnya yang dapat saya miliki tanpa harus membeli. Bahkan kadang kadang saya ke gudang untuk mencari barang barang adik saya yang sudah tidak dia pakai untuk kemudian saya perbaiki dan saya pakai kembali.
Jika kita menuruti ego kita untuk membeli semua barang barang yang up to date, bukan hanya uang kira yang akan habis, namun barang barang itu akan memenuhi tempat tinggal kita dan menjadi penggangu. Mungkin tidak masalah jika kita memiliki rumah yang besar untuk menyimpan barang barang tersebut, tetapi masalah lain juga muncul saat kita dituntut untuk membuang buang waktu demi barang itu. Misalkan kita punya handphone baru, kita akan cenderung melakukan berbagai kustomisasi yang tidak perlu selama ber jam jam , berhari hari dan bahkan memecah konsentrasi kita untuk melakukan hal yang lain. saya ingat sekali saat saya membeli laptop baru yang saya curahkan sangat banyak energi dan waktu hanya untuk menginstal kembali program program lama yang sebenarnya sudah ada di laptop saya yang lama. waktu adalah sumber daya yang berhaga dan terbatas,melalui pola hidup the minimalist ini saya mencoba menggunakan waktu saya sebaik mungkin untuk melakukan apa yang memang benar benar penting.
Namun usaha saya untuk benar benar menggunakan uang seperlunya dan meminimalisisr berbelanja yang tidak perlu sepertinya agak sedikit ternoda. walaupun saya dapat menahan diri tanpa membeli sehelai baju pun dalam beberapa bulan namun saya mempunyai kebiasaan nongkrong di berbagai waralaba fast food. kebiasaan ini tidak dapat saya anggap sepele karena selain menghabiskan uang dalam jumlah lumayan , frekuensi saya berkunjung ke starbuck juga sangat tinggi. Untuk memaksimalkan usaha saya menjadi seorang minimalist tulen saya harus dapat mengendalikan kebiasaan saya ini. saya memang tidak ingin benar benar berhenti mengunjungi tempat tempat tersebut, karena saya juga tidak ingin terlalu pelit dalam menggunakan uang, hanya saja jumlah kunjungan ke sana harus dapat saya kurangi.
Saya telah lama mengamati pola belanja yang saya lakukan, dan suatu hal yang menyebabkan saya selalu berkunjung ke gerai waralaba fasfood adalah ketika saya tidak membawa bekal makan siang dan saat saya ingin mendapatkan kopi di siang hari. Ketika kunci ini dapat saya atasi , saya yakin saya dapat mengurangi kunjungan saya ke tempat itu untuk melakukan pemborosan dapat dikurangi. Permasalahan yang saya hadapi ketika saya harus membawa bekal makan siang adalah ketika saya harus bangun pagi untuk menanak nasi dan sekaligus menyiapkan lauknya. beberapa hari ini saya telah berhasil melakukannya dan saya harap kedepannya bisa tetap saya lakukan sehingga lubang inefisiensi itu bisa saya tutup. Selain menyiapkan bekal, saya juga harus membawa kopi bubuk ke kantor.
Demikianlah cerita saya mengenai Journey to Minimalist lif to Live Maximalist. Semoga apa yang saya sampaikan dapat berguna bagi diri saya dan para pembaca. Semoga pola hidup minimalist atau yang kita kenal dengan pola hidup sederhana dapat lebih dikenal masyarakat indonesia dan dapat diterapkan tanpa rasa malu.
Comments
Post a Comment